Sosialisasi Pencegahan Perundungan dan Bahaya Kekerasan Seksual

Featured blog image
Kegiatan 02 August 2025

Sosialisasi Pencegahan Perundungan dan Bahaya Kekerasan Seksual

Author

ADMINISTRATOR

Editor

Wadaslintang — SMP Negeri 1 Wadaslintang melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan perundungan dan bahaya kekerasan seksual bagi murid kelas VII dan VIII pada Sabtu, 2 Agustus 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Korwil Wadaslintang dalam dua sesi dan dihadiri oleh para murid, guru pendamping, serta pemateri dari Puskesmas Wadaslintang dan Kepolisian Sektor Wadaslintang.

Pada sesi pertama disampaikan materi “Bahaya Kekerasan Seksual” untuk murid kelas VII. Materi disampaikan oleh Meiyanda Windawati, SKM. dan Suluh Restu Hayati, A.Md.KG. dari Puskesmas Wadaslintang. Para pemateri menekankan pentingnya pemahaman tentang pelecehan seksual, jenis-jenis kekerasan seksual, serta dampak fisik, psikologis, dan sosial yang dapat ditimbulkan. Para murid juga diajarkan tentang pentingnya berkata “tidak” terhadap perlakuan yang tidak pantas.

Sesi kedua dengan tema “Pencegahan dan Bahaya Perundungan” disampaikan untuk murid kelas VIII. AIPTU Kabul Amanto, S.Sos.I, dan BRIPKA Muhammad Rifki dari Kepolisian Sektor Wadaslintang bertindak sebagai pemateri. Dalam sesi ini dijelaskan berbagai bentuk perundungan, yaitu fisik, verbal, sosial, dan siber (cyberbullying), serta dampak serius yang dapat timbul, seperti gangguan mental hingga keinginan untuk bunuh diri. Polisi juga menyampaikan bahwa perundungan merupakan pelanggaran hukum dan dapat dikenai sanksi sesuai undang-undang perlindungan anak.

Kedua sesi dilaksanakan dalam suasana edukatif, penuh interaksi, dan melibatkan murid secara aktif. Ketua panitia, Ary Hidayat, S.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran murid akan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mendukung Gerakan Sekolah Ramah Anak dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Pendidikan. Seluruh peserta diingatkan untuk menjaga etika dan saling menghormati sebagai bentuk nyata menciptakan budaya positif di sekolah.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para murid dapat lebih memahami hak-hak mereka, berani bersuara jika menjadi korban, dan menjadi agen perubahan dalam menciptakan sekolah yang inklusif, aman dan nyaman untuk semua.

SMP NEGERI 1 WADASLINTANG

ADMINISTRATOR

Editor